Sabtu, 15 September 2012

AKAL YANG BERBUAH KESOMBONGAN

Manusia merupakan makhluk sempurna, karena manusia dibekali dengan berbagai kelebihan dibanding dengan makhluk lain, yaitu nafsu (sifat dasar iblis), taat (sifat dasar malaikat) dan akal (sifat keistimewaan manusia). Ketiga hal tersebut membuat manusia memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan-Nya. Dengan keberadaan akal membuat manusia menjadi selalu ingin tahu tentang apapun. Pengetahuan-pengetahuan baru terus bermunculan dikarenakan akal dan pikiran manusia yang selalu mencari jawaban atas pertanyaan dan keraguannya tentang apapun.

Tetapi ada pada sampai suatu titik dimana keistimewaan tersebut berubah menjadi ancaman hidup bagi manusia itu sendiri. Manusia yang terlalu bangga akan akalnya sampai merubah dirinya menjadi manusia sombong. Manusia yang mulai menyalahgunakan keistimewaan tersebut adalah benar-benar golongan orang yang merugi. Kesombongan adalah benar-benar dosa pertama dan dosa yang paling besar. Akal itu buah pemikiran, maka ketika akal membuahkan kesombongan itu sebenar-benarnya adalah kesadaran pikiran. Sombong akan keberadaan dirinya yang merasa hebat dari siapapun dan apapun. Ciri-ciri manusia sombong adalah menolak suatu kebenaran dan merendahkan manusia lain. Menolak kebenaran tuhan Meng-aku-kan dirinya dihadapan Tuhan dan manusia lain. Padahal tiadalah arti dirinya jika Tuhan tidak ambil peran didalamnya.

Manusia harusnya sadar sebanyak apapun pengetahuan yang didapat karena akalnya, itu semua tiada berarti jika dibandingkan dengan segala sesuatu yang belum diketahuinya dan tidak akan bisa ditemukan jawaban olehnya. Tuhan hanya memberikan sedikit pengetahuan pada manusia karena sesungguhnya dibalik semua hal yang diketahui oleh para pencari jawaban tersimpan sejuta rahasia yang hanya diri-NYA lah yang mengetahui jawabanya. Manusia hanya harus percaya pada ketentuan-NYA. Itulah cara bagaimana manusia bisa berhenti untuk terus menemukan jawaban. Sebesar-besarnya akal manusia untuk menemukan jawaban adalah sebatas pemikiran dirinya sendiri. Berdoalah dengan khusyuk memohon ampun pada-NYA tanpa mengingat siapa diri kita, terus merasa tiadalah arti diri kita tanpa kehendak-NYA. Ikhlaslah dalam setiap menjalankannya termasuk ikhlas dalam mencari pengetahuan baru, maka kesombongan akan dijauhkan dari akal, fikiran dan hati kita. Jarak antara akal dan kesombongan adalah pemikiran kita sendiri. Bagaimana cara kita berpikir menentukan kemana arah hidup kita. Jika kita menggunakan akal dan fikiran dengan menggunakan kemurnian hati sebagai penetral dan tetap terus berdoa memohon ampun pada-NYA, maka kita akan dijauhkan dari sifat sombong tersebut. Jika kita dengan angkuhnya menggunakan akal sampai meng-aku-kan dan menyombongkan diri, maka dialah sebenarnya manusia paling berdosa.

Pertanyaan
Adakah sebenarnya tingkatan dalam kebaikan? Jika ada dimana letak tingkat tertinggi dan terendah dari suatu kebaikan? Dimanakah sebenarnya batas kebaikan dan keburukan? Mengapa kebaikan dan keburukan seseorang sering sekali dinilai hanya dari melihat wujud atau situasi saja? Apa tolok ukur dari kebaikan dan keburukan itu sendiri?

Sabtu, 08 September 2012

Refleksi Pertemuan I

FILSAFAT

 Filsafat dapat diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dengan segala hubungan. Filsafat didasari oleh olah pikir manusia. Semua pertanyaan yang datang dari hati manusia yang bersifat kehidupan duniawi maupun spiritual semua berasal dari olah pikir. Filsafat tumbuh dalam pemikiran seorang manusia yang mempertanyakan tentang jati dirinya, hubungannya dengan Tuhan, hubungannya dengan sesama dan mempertanyakan dunia tempatnya berada.

Filsafat melingkupi bidang yang ada dan yang mungkin ada dengan tidak terbatas. Ini dapat dimaksudkan bahwa filsafat bisa datang dari mana saja, dari sesuatu yang sudah ada, nyata dan jelas tetapi masih harus dipertanyakan atau dari sesuatu yang mungkin ada dan pada akhirnya akan menjadi ada jika telah menemukan jawabannya. Filsafat juga bisa datang dari hal paling kecil sekalipun. Karena filsafat datang dari pertanyaan-pertanyaan yang selalu bergejolak difikiran seseorang, seperti pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat hidup, kebenaran Tuhan, kepercayaan dan keyakinan terhadap agama yang akan menjadi landasan hidup.

Hal yang mendorong seseorang untuk berfilsafat dapat dimulai dari keheranan akan sesuatu dimana rasa heran tersebut akan mendorong seseorang untuk menyelidiki dan menemukan jawaban. Berfilsafat juga dapat terjadi karena kesangsian (keraguan) seseorang terhadap sesuatu yang pada akhirnya akan menuntunnya pada kesadaran. Dan pada akhirnya pencarian jawaban tersebut akan berakhir pada kesadaran diri akan keterbatasan. Menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah terutama bila dibandingkan dengan alam sekitarnya.

 Filasafat juga terjadi melalui pertentangan-pertentang batin seseorang. Melalui pertentangan akan didapati suatu pengetahuan baru yang akan menjadi dasar seseorang untuk terus mencari jawaban-jawaban dari setiap pertentangan yang akan berubah menjadi pertanyaan hidup. Semakin dipertentangkan akan semakin dalam pengetahuan seseorang. Tetapi hendaknya jangan menurunkan setiap pengetahuan yang didapatkan menjadi sebuah keyakinan karena keyakinan yang hakiki itu hanya dipersembahkan untuk Tuhan.

Keseimbangan antara pemikiran dan hati juga harus dijaga. Filsafat merupakan olah pikir tetapi bukan berarti pemikiranlah yang menjadi acuan dalam menjalani kehidupan, tetapi harus diselaraskan dengan kata hati. Pikiran tidak akan bisa mengukur perasaan seseorang. Kemurnian hati dapat menjadi penetral bagi pemikiran-pemikiran yang sangat tidak terbatas.

Kemudian jika kemurnian hati dapat menjadi penetral bagi pemikiran yang tak terbatas, bagaimana membedakan kata hati dan kata pemikiran agar tidak salah dalam mengambil keputusan?