Manusia merupakan makhluk sempurna, karena manusia dibekali dengan
berbagai kelebihan dibanding dengan makhluk lain, yaitu nafsu (sifat dasar
iblis), taat (sifat dasar malaikat) dan akal (sifat keistimewaan manusia). Ketiga hal
tersebut membuat manusia memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan-Nya.
Dengan keberadaan akal membuat manusia menjadi selalu ingin tahu tentang apapun.
Pengetahuan-pengetahuan baru terus bermunculan dikarenakan akal dan pikiran
manusia yang selalu mencari jawaban atas pertanyaan dan keraguannya tentang
apapun.
Tetapi ada pada sampai suatu titik dimana
keistimewaan tersebut berubah menjadi ancaman hidup bagi manusia itu sendiri.
Manusia yang terlalu bangga akan akalnya sampai merubah dirinya menjadi manusia
sombong. Manusia yang mulai menyalahgunakan keistimewaan tersebut adalah
benar-benar golongan orang yang merugi. Kesombongan adalah benar-benar dosa
pertama dan dosa yang paling besar. Akal itu buah pemikiran, maka ketika akal
membuahkan kesombongan itu sebenar-benarnya adalah kesadaran pikiran. Sombong
akan keberadaan dirinya yang merasa hebat dari siapapun dan apapun. Ciri-ciri
manusia sombong adalah menolak suatu kebenaran dan merendahkan manusia lain. Menolak
kebenaran tuhan Meng-aku-kan dirinya dihadapan Tuhan dan manusia lain. Padahal
tiadalah arti dirinya jika Tuhan tidak ambil peran didalamnya.
Manusia harusnya sadar sebanyak apapun
pengetahuan yang didapat karena akalnya, itu semua tiada berarti jika
dibandingkan dengan segala sesuatu yang belum diketahuinya dan tidak akan bisa
ditemukan jawaban olehnya. Tuhan hanya memberikan sedikit pengetahuan pada
manusia karena sesungguhnya dibalik semua hal yang diketahui oleh para pencari
jawaban tersimpan sejuta rahasia yang hanya diri-NYA lah yang mengetahui
jawabanya. Manusia hanya harus percaya pada ketentuan-NYA. Itulah cara
bagaimana manusia bisa berhenti untuk terus menemukan jawaban. Sebesar-besarnya
akal manusia untuk menemukan jawaban adalah sebatas pemikiran dirinya sendiri.
Berdoalah dengan khusyuk memohon ampun pada-NYA tanpa mengingat siapa diri
kita, terus merasa tiadalah arti diri kita tanpa kehendak-NYA. Ikhlaslah dalam
setiap menjalankannya termasuk ikhlas dalam mencari pengetahuan baru, maka
kesombongan akan dijauhkan dari akal, fikiran dan hati kita. Jarak antara akal
dan kesombongan adalah pemikiran kita sendiri. Bagaimana cara kita berpikir
menentukan kemana arah hidup kita. Jika kita menggunakan akal dan fikiran
dengan menggunakan kemurnian hati sebagai penetral dan tetap terus berdoa
memohon ampun pada-NYA, maka kita akan dijauhkan dari sifat sombong tersebut.
Jika kita dengan angkuhnya menggunakan akal sampai meng-aku-kan dan
menyombongkan diri, maka dialah sebenarnya manusia paling berdosa.
Pertanyaan
Adakah sebenarnya tingkatan dalam kebaikan? Jika ada dimana
letak tingkat tertinggi dan terendah dari suatu kebaikan? Dimanakah sebenarnya
batas kebaikan dan keburukan? Mengapa kebaikan dan keburukan seseorang sering
sekali dinilai hanya dari melihat wujud atau situasi saja? Apa tolok ukur dari
kebaikan dan keburukan itu sendiri?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar