Pendidikan bagi setiap orang memiliki esensi yang sama seperti kebutuhan
manusia akan udara. Manusia takkan bisa hidup tanpa udara, sama halnya dengan
pendidikan dimana pendidikan merupakan awal manusia membentuk akal, sikap dan
karakternya agar mampu menjadi manusia yang terdidik dan berguna serta mampu
mengaplikasikan ilmu yang ada untuk kebaikan. Salah satu jenis pendidikan yang
sangat penting adalah pendidikan matematika yang mengajarkan konsep berfikir
dengan menggunakan intuisi. Setiap orang pastinya sadar akan pentingnya
pendidikan matematika tetapi masih banyak kaum yang tidak mengerti bagaimana
sebaiknya sistem pendidikan matematika itu dijalankan agar mampu menghasilkan
manusia yang berkarakter tanpa mengubur intuisi mereka. Campurtangan para
matematika murni didalam pendidikan matematika adalah salah satu alasan
kehancuran pendidikan matematika.
Matematika murni adalah para prajurit powernow yang selalu mengandalkan
kekuatan, politik, ekonomi dalam melancarkan aksinya. Amerika merupakan sponsor
powernow dimana terjadinya persatuan antara pragmatis, kapitalis, hedonis. Pelan
tapi pasti para powernow ini sudah berkuasa di Indonesia dan akibatnya Indonesia
sekarang sudah menjadi Amerika kecil. Jika ingin melihat melihat Indonesia
kedepan maka lihatlah Amerika dibelakang harin dan ini adalah salah satu bentuk
ketidakberdayaan kita pada powernow.
Industrialisme adalah landasan powernow yang menanamkan bahwa dasar
pondamen dari kurikulum adalah teknologi. Kurikulum yang seperti ini pada
akhirnya akan membunuh intuisi seorang anak karena seharusnya mereka belajar
melalui pengalamannya dengan membiarkan mereka bermain mengembangkan intuisi.
Pendidikan agama, menyanyi, menari, menggambar dan yang lain adalah pendidkan
yang mendukung berkembangnya intuisi anak. Bagaimana intuisi itu dapat terus
melekat pada seorang anak jika pada saat dia kecil sudah dikenalkan dengan
teknologi dan dipaksa untuk berfikir secara matematika? Seironis inilah
nyatanya pendidikan matematika yang ada di negara Indonesia. Para powernow
tersebut mengajarkan matematika lalu yang lainnya akan mengikuti dimana hal
yang lain tersebut termasuk pendidikan. Artinya matematika murni menganggap
kecil pendidikan dan itu merupakan suatu pemikiran yang sangat bodoh. Mereka
tidak sadar bahwa dampak dari pola pikir mereka adalah hilangnya intuisi dari
anak-anak yang diajarkan dengan sistem mereka. Intuisi anak ada lebih dari 80%
dan itu akan semakin hilang ketika mereka dewasa dikarenakan diajarkan dengan
sangat keras.
Seperti yang kita sudah ketahui ada beberapa anak yang pada umurnya
seharusnya dia menikmati masa-masa bermain tetapi nyatanya dia sudah memiliki
pemikiran seperti seorang ilmuwan. Kalu kita lihat hal ini dari sisi
filsafatnya adalah kesalahan besar dimana akibat dari proses tersebut adalah
hilangnya intuisi dari diri anak tersebut. Mengajarkan generasi muda dengan
keras memang pada akhirnya akan menghasilkan generasi yang pintar dan ambisius.
Tetapi apalah arti dari semua itu jika sang anak pada akhirnya akan hidup
seperti robot, keambiusan yang dia miliki tidak menuntun dia untuk hidup
berbahagia karena dia hanya menginginkan kesempurnaan dan hal-hal baru yang dapat
diciptakan. Bahkan terkadanga mereka mulai melupakan agama mereka sendiri.
Apakah generasi seperti itu yang kita harapkan? Mari sejenak kita merenung dan
pikirkan bagaimana nasib pendidikan kita kedepannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar