Minggu, 30 September 2012

AKAL DAN HATI PARA GUNUNG FILSAFAT


Filsafat sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berusaha mencari kebenaran. Sumber dari filsafat adalah manusia dimana akal dan hati manusia yang sehat yang berusaha untuk mencari kebenaran dan pada akhirnya memperoleh kebenaran. Pertentangan antara akal dan hati itulah yang pada dasarnya menjadi isi dari sejarah filsafat dan rivalitas antara keduanya telah terjadi di dalam sejarah peradaban.
Sejarah perkembangan filsafat terjadi seiring dengan perkembangan filsafat itu sendiri. Dalam perkembangan awalnya para pemikir Yunani di abad ke-6 SM mulai mencari jawaban tentang rahasia-rahasia alam semesta dengan cara berfikir sendiri dan tidak lagi mencari-cari  dari cerita mitos. Beberapa filsuf terkemuka telah mengemukakan cara pandangnya dengan membentuk aliran filsafat. Berikut beberapa pemikir filsafat yang sangat berpengaruh dan akan terlihat bagaimana cara berfikir mereka.
PARA PEMIKIR FILSAFAT ZAMAN YUNANI KUNO
THALES (624-546SM)
Seorang Miletus yang digelari bapak filsafat karena dialah orang pertama yang berfilsafat. Pertanyaan dasar yang telah mengangkatnya menjadi filsuf adalah “Apa sebenarnya bahan alam semesta ini?”. Ia sendiri dengan cara berfikirnya menjawab air karena Ia melihat air adalah sesuatu yang amat diperlukan dalam kehidupan dan menurut pendapatnya bumi ini terapung diatas air.  Pertanyaan itu dijawab dengan menggunakan akal bukan agama ataupun kepercayaan lainnya.
ANAXIMENDER
Menjelaskan bahwa substansi pertama bersifat kekal dengan sendirinya dan ia mengatakan bahwa udara adalah jawabannya. Alasannya karena udara adalah sumber dari segala kehidupan.
HERACLITUS (544-484)
Heraclitus menyatakan bahwa “Engkau tidak dapat terjun kesungai yang sama dua kali karena air sungai itu selalu mengalir”. Melalui pemikiran Heraclituslah paham relativisme semakin memiliki dasar. Ia menyatakan bahwa alam semesta ini selalu berada dalam keadaan berubah termasuk kebenaran sekalipun.
PARMANIDES (450 SM)
Mempertanyakan tentang “Apa standard kebenaran dan apa ukuran realitas? Bagaimana hal itu dapat dipahami?”. Ia menjawab “Ukurannya ialah logika yang konsisten”. Ia menjelaskan bahwa benar tidaknya suatu pendapat diukur dengan logika. Dengan kata lain Ia mengatakan bahwa kebenaran diukur dari akal manusia sama artinya dengan mengatakan kebenaran diukur oleh manusia itu sendiri. Terjadi suatu permasalahan pada pemikiran Heraclitus karena banyak yang mempertanyakan konsekuensi dari pemikirannya
ZENO (490 SM)
Mulai menemukan konsekuensi dari pemikiran Heraclitus dengan merelatifkan kebenaran yang ada. Ia mengatakan bahwa “Kebenaran itu relaif, tergantung bagaimana cara membuktikannya”. Cara berfikir seperti ini jatuh kepada barisan sofis (semua kebenaran itu relative).
PROTAGORAS
Salah seorang tokoh yang berada dibarisan sofis yang menyatakan bahwa “Manusia adalah ukuran kebenaran”. Ia mengatakan pula bahwa kebenaran bersifat pribadi, akibatnya tidak akan ada ukuran yang absolut dalam etika, metafisika maupun agama. Bahkan teori-teori dalam matematika tidak juga dianggapnya memiliki kebenaran yang absolut.
GORGIAS
Ada tiga proposisi yang diajukan Grogias (1) Pemikiran lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realitas. (2) Bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui. Ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber ilusi. (3) Sekalipun realitas itu dapat diketahui, ia tidak dapat kita beritahukan kepada orang lain.
SOCRATES (470-399 SM)
Filsuf terkemuka setelah Thales yang menyatakan bahwa filsafat adalah suatu peninjauan diri yang bersifat reflektif dari kehidupan yang adil dqan bahagia.
PLATO (427-347 SM)
Seorang sahabat dan murid dari socrates ini mengubah pengertian kaearifan yang semula bertalian dengan soal-soal praktis dalam kehidupan menjadi pemahaman intelektual. Ia menegaskan bahwa para filsuf merupakan pecinta pandangan tentang kebenaran. Dalam pencarian terhadap kebenaran tersebut, hanya filsuf yang dapat menemukan dan menangkap pengetahuan tentang ide yang abadi dan tak berubah. Filasafat Plato ini kemudian dikenal dengan Filsafat Spekulatif.
ARISTOTELES (384-332)
Aristoteles adalah salah seorang murid Plato yang sering bertentangan pendapat dengan gurunya. Tapi pada prinsipnya Ia mengembangkan paham yang dikemukakan gurunya. Aristoteles mengemukakan bahwa kearifan merupakan kebajikan intelektual tertinggi dan menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran.
Pemikiran-pemikiran dari beberapa filsuf ternama pada masa Yunani kuno tersebut telah memperlihatkan bahwa didalam filsafat terdapat lebih dari satu kebenaran tentang suatu persoalan. Sebabnya ialah bukti kebenaran teori dalam filsafat terletak pada logis atau tidaknya argumen yang digunakan, bukan terletak pada konklusi (kesimpulan).
PARA PEMIKIR FILSAFAT PADA ABAD PERTENGAHAN
PLOTINUS (204-270)
Plotinus mengatakan bahwa Tuhan bukan untuk dipahami tetapi untuk dirasakan, karena itu tujuan filsafat adalah untuk bersatu dengan tuhan. Filsafat rasional dan sains tidak penting dan merupakan sesuatu yang sia-sia mempelajarinya.


 AGUSTINUS (354-430)
Ajaran agustinus berpusat pada Tuhan dan manusia. Menurut Agustinus, kebenaran itu bukanlah relatif melainkan mutlak yaitu ajaran agama. Ia juga mengatakan bahwa mempelajari alam adalah sia-sia karena yang paling penting adalah cinta kepada Tuhan. Tidak perlu dicari dan dipelajari, cukup tanya pada hati.
ANSELMUS (1033-1109)
Anselmus adalah tokoh yang mengeluarkan pernyataan credo ut intelligam yang merupakan ciri utama filsafat abad pertengahan. Credo ut intelligam berarti mengimani terlebih dahulu lalu mengerti. Hal ini berlawanan denga filsafat rasional yang mendahulukan mengerti lalu mengimani.
THOMAS AQUINAS (1225-1274)
Aquinas menyatakan bahwa semua realitas itu dibimbing oleh Tuhan dan tanpa bimbingan tuhan, manusia tidak mengetahui apa-apa. Ada dua jalur pengetahuan dalam filsafat Aquinas (1) Jalur akal yang dimualai dari manusia dan berakhir pada Tuhan (2) Jalur iman yang dimulai dari Tuhan didukung oleh akal.
Dapat dilihat bahwa pada abad pertengahan, iman benar-benar menang melawan akal dan berhasil mendominasi jalan hidup abad pertengahan. Karena itu pada abad pertengahan, filsafat-filsafat yang dikemukakan banyak mendapat kritikan.
PARA PEMIKIR FILSAFAT PADA ZAMAN MODERN
RENAISSANCE
Zaman modern filsafat didahului oleh zaman Renaissance dimana tokoh utama filsafat modern ini adalah Rene Descrates. Ciri-ciri filsafat ini adalah menghidupkan kembali rasionalisme Yunan, individualisme, humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain.
RASIONALISME
Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan akal adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan. Tokoh-tokoh yang terkenal dalam aliran rasional pada abad modern ini antara lain Rene Descrates (1596-1650), Nicholas Malebranche (1638-1775), De Spinoza (1632-1677), Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716), Christian Wolf (1679-1754) dan Blaise Pascal (1623-1662)
IDEALISME OBJEKTIF
Idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam ketergantungannya pada jiwa dan spirit. Tokoh-tokoh yang terkenal dalam aliran ini adalah Fichte (1762-1814), Schelling (1755-1854), Hegel (1770-1831)
IDEALISME THEIST
-        Pascal (1623-1662)
Ada dua cara memperoleh pengetahuan yaitu menggunakan akal dan menggunaka hati.Akal dengan segala perangkat yang dimilikinya dapat mengetahui aspek-aspek tertentu, tatkala akal tidak dapat menjangkau sesuatu maka hati dapat menyingkap hal itu.
-        Immanuel Kant (1724-1804)
Menurutnya filsafat adalah ilmu yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup masalah epistemologi, etika dan masalah ketuhanan.
EMPIRISME
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Tokoh-tokoh yang terkenal dalam aliran ini adalah John Locke (1632-1704), David Hume (1711-1776)Herbet Spencer (1820-1903)
PRAGMATISME
Aliran ini bersedia menerima sesuatu asal membawa akibat praktis atau memiliki patokan manfaat bagi hidup praktis. Ada tiga patokan yang disetujui oleh aliran pragmatisme yaitu (1) Menolak segala intelektualisme (2) Absolutisme (3) Meremehkan logika formal
EKSISTENSIALISME
Aliran filsafat ini sangat susah dipahami karena kaum eksistensialis sendiri tidak sepakat dengan apa sebenarnya neksistensialisme itu. Namun ada sesuatu yang disepakati bahwa baik filsafat eksistensi maupun filsafat eksistensialisme sama-sama menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral. Yang dimaksud dengan filsafat eksistensi adalah menmpatkan cara wujud manusia sebagai manusia sentra sedangkan yang diamksud dengan filsafat eksistensialisme, rumusannya lebih sulit dari eksistensi. Tokoh-tokoh yang terkenal dalam aliran ini adalah Soren Kierkegaard (1813-1855), Jean Paul Sartre (1905-1980).
Dapat disimpulkan bahwa pada zaman modern filsafat lepas dari cengkraman agama kristen seperti yang terjadi pada abad pertengahan. Akal lebih mendominasi pada filsafat zaman modern. Pada dasarnya keseluruhan filsafat modern mengambil pemikiran filsafat sofisme yunani, hanya pada kant yang sedikit berbeda.

Pertanyaan
Saya pernah mendengar seseorang mengatakan “kenyataan adalah buah dari masalalu” Bagaimana pendapat bapak tentang pernyataan tersebut? Apakah hukum karma memang berlaku di hidup ini?

Minggu, 23 September 2012

DIMENSI PARA INSAN

Berfilsafat sejatinya selalu dilakukan oleh setiap manusia. Tanpa menyadarinya, berfilsafat adalah hal yang rutin dilakukan. Filsafat dimulai dari pertanyaan “mengapa”, merasa ragu ataupun merasa heran. Merasa takjub akan sesuatu juga merupakan awal berfilsafat, tetapi takjub yang dimaksud bukanlah takjub yang extraordinary seperti terciptanya bom nuklir. Takjub dalam berfilsafat lebih melihat dari hal-hal kecil dan sederhana seperti mengapa mata bisa berkedip. Ketakjuban itu sendiri terkait dengan objek dan subyek yang ada diluarnya. Seperti kata Descrates bahwa diriku adalah fikiranku. Jika ketakjuban akan sesuatu membuahkan suatu pemikiran dan menemukan jawaban, maka itulah sebenar-benarnya diri kita yang mampu menerjemahkan apa yang kita fikirkan dengan level masing-masing diri.

Seperti halnya memikirkan nyawa ataupun mimpi. Seberapa jauh kita memikirkannya Dan menterjemahkannya itulah sebenar-benarnya diri kita. Karena itu nyawa ataupun mimpi merupakan obyek fikir yang berdimensi, subyeknya yang berdimensi dan metodenya yang berdimensi. Subyek yang lebih tinggi dari manusia adalah malaikat dan metode yang paling tinggi adalah metode spiritual. Maka dari itu apa yang dapat kita fikirkan dan  kerjakan, lakukan dengan tingkat level yang kita miliki. Fikiran manusia untuk mengingat sesuatu juga meiliki dimensi atau tingkatan yang berbeda. Cara yang terbaik agar ingatan tidak menuju level semakin rendah adalah dengan berinteraksi kepada yang ada dan mungkin ada seperti membaca, berinteraksi dengan orang lain dan menambah wawasan melalui TV ataupu radio.

Perbedaan dimensi dan level yang ada karena kita memiliki olah fikir. Manusia diturunkan kebumi dengan dibekali olah fikir yang cukup sehingga kita dapat memikirkan bahwa sebenarnya manusia tidak ada yang sama. Jika menyamakan satu dengan yang lainnya itulah sebenar-benarnya yang dzalim (kejam). Tetapi jika kita memasuki ranah Tuhan, semua ciptaan tuhan termasuk manusia itu tidak ada yang berbeda. Kita tidak akan menemukan perbedaan apapun jika masih membicarakannya dalam lingkup tersebut. Maka sebenarnya Perbedaan itu kontekstual, dilihat dari setiap ranahnya memiliki arti yang berbeda. Perbedan akan menjadi baik jika kita menggunakanya pada ranah antar manusia dan perbedaan akan menjadi buruk jika kita melihatnya melalu ranah Tuhan.

Dan bagaimana degan kebaikan dan keburukan? Bagaimana membedakannya? Jelas ada perbedaan kebaikan dan keburukan, letak perbedaannya adalah dari ilmu yang kita miliki. Setinggi-tingginya ilmu adalah jika kita membaginya kepada orang banyak dalam kerangka untuk beribadah dan serendah-rendahnya ilmu adalah jika hanya disimpan untuk diri sendiri. Seburuk-buruknya jika kita tidak menginginkan ilmu bahkan untuk diri sendiri. Tolok ukur dari kebaikan dan keburukan ilmu ini dapat dilihat dari kiprahnya yang bermanfaat untuk orang lain atau tidak. Tetapi harus diingat bahwa setinggi-tingginya kebaikan dalam mencari ilmu akan selalu lebih tinggi lagi dengan kebaikan mencari keikhlasan. Maka dari itu tetaplah menjadi orang yang ikhlas agar selalu merasa dekat dengan Tuhan.

PERTANYAAN
Mengapa Paradigma/mindset yang diyakini orang banyak pada akhirnya akan menjadi suatu peraturan yang harus diikuti? Bagaimana dengan mereka yang tidak sepaham, jika menentang akan dianggap “aneh” bahkan terkadang dijauhi oleh orang lain?